Nama lengkapnya adalah Uwaimir bin Zaid bin Qais, seorang
sahabat perawi hadist dari Anshar, dari kabilah Khajraj, ia hapal al-Quran dari
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Dalam perang Uhud Rasulullah bersabda
mengenai dirinya “ Prajurit
berkuda paling baik adalah Uwaimir” Beliau ini dipersaudarakan oleh
Rasulullah dengan Salman Al Farisi. Dia mengikuti semua peperangan yang terjadi
setelah perang Uhud.
Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman, Abu Darda’ diangkat
menjadi Hakim di daerah Syam, Ia adalah mufti (pemberi fatwa) penduduk Syam dan
ahli Fiqh penduduk Palestina.
Ia meriwayatkan hadits dari Sayyidah Aisyah dan Zaid
bin Tsabit, sedangkan yang meriwayatkan darinya ialah anaknya sendiri Bilal dan
istrinya Ummu Darda’. Hadits yang dia riwayatkan mencapai 179 hadits. Tentang dia
Masruq berkata:” Aku
mendapatkan ilmu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pada enam orang
diantaranya dari Abu Darda“.
Uwaimir
bin Malik al-Khazraji yang lebih dikenal dengan nama Abu Darda
bangun dari tidurnya pagi-pagi sekali. Setelah itu, dia menuju berhala
sembahannya di sebuah kamar yang paling istimewa di dalam rumahnya. Dia
membungkuk memberi hormat kepada patung tersebut, kemudian diminyakinya dengan
wangi-wangian termahal yang terdapat dalam tokonya yang besar, sesudah itu
patung tersebut diberinya pakaian baru dari sutera yang megah, yang
diperolehnya kemarin dari seorang pedagang yang datang dari Yaman dan sengaja
mengunjunginya.
Setelah matahari agak tinggi, barulah Abu Darda masuk
ke rumah dan bersiap hendak pergi ke tokonya. Tiba-tiba jalan di Yastrib
menjadi ramai, penuh sesak dengan para pengikut Nabi Muhammad yang baru kembali
dari peperangan Badar. Di muka sekali terlihat sekumpulan tawanan terdiri dari
orang-orang Quraisy. Abu Darda mendekati keramaian dan bertemu dengan seorang
pemuda suku Khazraj. Abu Darda menanyakan kepadanya keberdaan Abdullah bin
Rawahah. Pemuda Khazraj tersebut menjawab dengan hati-hati pertanyaan Abu
Darda, karena dia tahu bagaimana hubungan Abu Darda dengan Abdullah bin
Rawahah. Mereka tadinya adalah dua orang teman akrab di masa jahily. Setelah
Islam datang, Abdullah bin Rawahah segera masuk Islam, sedangkan Abu Darda
tetap dalam kemusyrikan. Tetapi, hal itu tidak menyebabkan hubungan
persahabatan keduanya menjadi putus. Karena, Abdullah berjanji akan mengunjungi
Abu Darda sewaktu-waktu untuk mengajak dan menariknya ke dalam Islam. Dia
kasihan kepada Abu Darda, karena umurnya dihapiskan dalam kemusyrikan.
Abu Darda tiba di toko pada waktunya. Ia duduk bersila
di atas kursi, sibuk jual beli dan mengatur para pelayan. Sementara itu,
Abdullah bin Rawahah datang ke rumah Abu Darda. Sampai di sana dia melihat Ummu
Darda di halaman rumahnya.
“Assalamu’alaiki,
ya amatallah,” (Semoga Anda bahagia, hai hamba Allah) kata Abdullah
memberi salam.
“Wa’alaikassalam,
ya akha Abi Darda’” (Dan semoga Anda bahagia pula, hai sahabat Abu
Darda), jawab Ummu Darda.
“Ke
mana Abu Darda?” tanya Abdullah.
“Dia ke
toko, tetapi tidak lama lagi dia akan pulang,” jawab Ummu Darda.
“Bolehkah
saya masuk?” tanya Abdullah.
“Dengan
segala senang hati, silakan!” jawab Ummu Darda.
Ummu Darda melapangkan jalan bagi Abdullah, kemudian dia
masuk ke dalam dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga serta mengasuh anak.
Abdullah bin Rawahah masuk ke kamar tempat Abu Darda meletakkan patung
sembahannya. Dikeluarkannya kapak yang sengaja dibawanya. Dihampirinya patung
itu, lalu dikapaknya hingga berkeping-keping. Katanya, “Ketahuilah, setiap yang disembah selain
Allah adalah batil!” Setelah selesai menghancurkan patung tersebut,
dia pergi meninggalkan rumah.
Ummu Darda masuk ke kamar tempat patung berada.
Alangkah terperanjatnya dia, ketika dilihatnya petung telah hancur berkeping-keping
dan berserakan di lantai. Ummu Darda meratap menampar-nampar kedua pipinya
seraya berkata, “Engkau celakan
saya, hai Ibnu Rawahah.” Tidak berapa lama kemudian Abu Darda
pulang dari toko. Ia mendapati istrinya sedang duduk dekat pintu kamar patung
sambil menangis. Rasa cemas dan takut kelihatan jelas di wajahnya.
“Mengapa
engkau menangis?” tanya Abu Darda.
“Teman
Anda, Abdullah bin Rawahah tadi datang kemari ketika Anda sedang di toko. Dia
telah menghancurkan patung sembahan Anda. Cobalah Anda saksikan sendiri,”
jawab Ummu Darda.
Abu Darda menengok ke kamar patung, dilihatnya patung itu
sudah berkeping-keping, maka timbullah marahnya. Mulanya dia bermaksud hendak
mencari Abdullah. Tetapi, setelah kemarahannya berangsur padam, dia memikirkan
kembali apa yang sudah terjadi. Kemudian katanya, “Seandainya patung itu benar Tuhan, tentu dia sanggup membela
dirinya sendiri.”
Maka, ditinggalkannya patung yang menyesatkan itu,
lalu dia pergi mencari Abdullah bin Rawahah. Bersama-sama dengan Abdullah, dia
pergi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. dan menyatakan masuk
agama Allah di hadapan beliau. Sejak detik pertama Abu Darda iman dengan Allah
dan Rasul-Nya, dia iman dengan sebenar-benar iman. Dia sangat menyesal agak
terlambat masuk Islam. Sementara itu, kawan-kawannya yang telah lebih dahulu
masuk Islam telah memperoleh pengertian yang mendalam tentang agama Allah ini,
hafal Alquran, senantiasa beribadat, dan takwa yang selalu mereka tanamkan
dalam dirinya di sisi Allah. Karena itu, dia bertekad hendak mengejar
ketinggalannya dengan sungguh-sunggu sekalipun dia berpayah-payah siang dan
malam, hingga tersusul orang-orang yang telah berangkat lebih dahulu. Dia
berpaling kepada ibadat dan memutuskan hubungannya dengan dunia; mencurahkan
perhatian kepada ilmu seperti orang kehausan, mempelajari Alquran dengan tekun
dan menghafal ayat-ayat, serta menggali pengertiannya sampai dalam. Tatkala
dirasakannya perdagangannya terganggu dan merintanginya untuk beribadat dan
menghadiri majlis-majlis ilmu, maka ditinggalkannya perusahaanya tanpa
ragu-ragu dan tanpa menyesal.
Berkenaan dengan sikapnya yang tegas itu, orang pernah
bertanya kepadanya. Maka, dijawabnya, “Sebelum
masa Rasulullah, saya menjadi seorang pedagang. Maka, setelah masuk Islam, saya
ingin menggabungkan berdagang untuk beribadat. Demi Allah, yang jiwa Abu Darda
dalam kuasa-Nya, saya akan menggaji penjaga pintu masjid supaya saya tidak
luput salat berjamaah, kemudian saya berjual beli dan berlaba setiap hari 300
dinar.” Kemudian, saya menengok kepada si penanya dan berkata, “Saya tidak mengatakan, Allah Ta’ala
mengharamkan berniaga. Tetapi saya ingin menjadi pedagang, bila perdagangan dan
jual beli tidak menganggu saya untuk dzikrullah (berzikir).”
Abu Darda tidak meninggalkan perdagangan sama sekali.
Dia hanya sekadar meninggalkan dunia dengan segala perhiasan dan kemegahannya.
Baginya sudah cukup sesuap nasi sekadar untuk menguatkan badan, dan sehelai
pakaian kasar untuk menutupi tubuh.
Pada suatu malam yang sangat dingin, suatu jamaah bermalam
di rumahnya. Abu Darda menyuguhi mereka makanan hangat, tetapi tidak memberinya
selimut. Ketika hendak tidur, mereka mempertanyakan selimut. Seorang di
antaranya berkata, “Biarlah
saya tanyakan kepada Abu Darda." Kata yang lain, “Tidak perlu!” Tetapi, orang
yang seorang itu menolak saran orang yang tidak setuju. Dia terus pergi ke
kamar Abu Darda. Sampai di muka pintu dilihatnya Abu Darda berbaring, dan
istrinya duduk di sampingnya. Mereka berdua hanya memakai pakaian tipis yang
tidak mungkin melindungi mereka dari kedinginan. Orang itu bertanya kepada Abu
Darda, “Saya melihat Anda sama
dengan kami, tengah malam sedingin ini tanpa selimut. Ke mana saja kekayaan dan
harta benda Anda?”
Jawab Abu Darda, “Kami
mempunyai rumah di kampung sana. Harta benda kami langsung kami kirimkan ke
sana setiap kami peroleh. Seandainya masih ada yang tinggal di sini (berupa
selimut), tentu sudah kami berikan kepada tuan-tuan. Di samping itu, jalan ke
rumah kami yang baru itu sulit dan mendaki. Karena itu, membawa barang seringan
mungkin lebih baik daripada membawa barang yang berat-berat. Kami memang
sengaja meringankan beban kami supaya mudah dibawa". Kemudian
Abu Darda bertanya kepada orang itu, “Pahamkah
Anda?”
Jawab orang itu, “Ya,
saya mengerti.”
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Umar
mengangkat Abu Darda menjadi pejabat tinggi di Syam. Tetapi, Abu Darda menolak
pengangkatan tersebut. Khalifah Umar marah kepadanya. Lalu kata Abu Darda, “Bilamana Anda menghendaki saya pergi ke
Syam, saya mau pergi untuk mengajarkan Alquran dan sunah Rasulullah kepada
mereka serta menegakkan salat bersama-sama dengan mereka.” Khalifah
Umar menyukai rencana Abu Darda tersebut. Lalu, Abu Darda berangkat ke Damsyiq.
Sampai di sana didapatinya masyarakat telah mabuk kemewahan dan tenggelam dalam
kenikmatan dunia. Hal itu sangat menyedihkannya. Maka, dipanggilnya orang
banyak ke masjid, lalu dia berpidato di hadapan mereka.
Katanya, “Wahai
penduduk Damsyiq! Kalian adalah saudaraku seagama, tetangga senegeri, dan
pembela dalam melawan musuh bersama. Wahai penduduk Damsyiq! Saya heran, apakah
yang menyebabkan kalian tidak menyenangi saya? Padahal, saya tidak mengharapkan
balas jasa dari kalian. Nasihatku berguna untuk kalian, sedangkan belanjaku
bukan dari kalian. Saya tidak suka melihat ulama-ulama pergi meninggalkan
kalian, sementara orang-orang bodoh tetap saja bodoh. Saya hanya mengharapkan
kalian supaya melaksanakan segala perintah Allah Taala, dan menghentikan segala
larangan-Nya. Saya tidak suka melihat kalian mengumpulkan harta kekayaan
banyak-banyak, tetapi tidak kalian pergunakan untuk kebaikan. Kalian membangun
gedung-gedung yang mewah, tetapi tidak kalian tempati atau kalian
mencita-citakan sesuatu yang tak mungkin tercapai oleh kalian. Bangsa-bangsa
sebelum kamu pernah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan bercita-cita
setinggi-tingginya. Tetapi hanya sebntar, harta yang mereka tumpuk habis kikis,
cita-cita mereka hancur berantakan, dan bangunan-bangunan mewah yang mereka
bangun rubuh menjadi kuburan. Hai penduduk Damsyiq! Inilah bangsa ‘Ad (kaum
Nabi Hud As.)yang telah memenuhi negeri (antara Aden dan Oman) dengan harta
kekayaan dan anak-anak. Siapakah di antara kalian yang berani membeli dariku
peninggalan kaum ‘Ad itu dengan harga dua dirham?”
Mendengar pidato Abu Darda tersebut orang banyak menangis,
sehingga isak tangis mereka terdengar dari luar masjid. Sejak hari itu Abu
Darda senantiasa mengunjungi majelis-majelis masyarakat Damsyiq dan pergi ke
pasar-pasar. Jika ada yang bertanya kepadanya, dijawabnya. Jika dia bertemu
dengan orang bodoh, diajarinya; dan jika dia melihat orang terlalai,
diingatkannya. Direbutnya setiap kesempatan yang baik sesuai dengan situasi dan
kondisi serta kemampuan yang ada padanya.
Pada suatu ketika dia melihat sekelompok orang mengeroyok
seorang laki-laki. Laki-laki itu babak belur dipukuli dan dicaci-maki mereka.
Abu Darda datang menghampiri, lalu bertanya, “Apa yang telah terjadi?"
Jawab mereka, “Orang
ini jatuh ke dalam dosa besar.”
Kata Abu Darda, “Seandainya
dia jatuh ke dalam sumur, tidakkah kalian keluarkan dia dari sumur itu?”
Jawab mereka, “Tentu!”
Kata Abu Darda, “Karena
itu, janganlah kalian caci maki dia, dan jangan pula kalian pukuli. Tetapi,
berilah dia pengajaran dan sadarkan dia. Bersyukurlah kalian kepada Allah yang
senantiasa memaafkan kalian dari dosanya.”
Tanya mereka, “Apakah
Anda tidak membencinya?”
Jawab Abu Darda, “Sesungguhnya
saya membenci perbuatannya. Apabila dia telah menghentikan perbuatannya yang
berdosa itu, dia adalah saudara saya.” Orang itu menangis dan tobat
dari kesalahannya.
Kali yang lain seorang pemuda mendatangi Abu Darda dan
berkata kepadanya, “Wahai
sahabat Rasulullah! Ajarilah saya!”
Jawab Abu Darda, “Hai
anakku! Ingatlah kepada Allah di waktu kamu bahagia. Maka Allah akan
mengingatmu di waktu kamu sengsara. Hai anakku! Jadilah kamu pengajar atau
menjadi pelajar atau menjadi pendengar. Dan, janganlah sekali-kali menjadi yang
keempat (yaitu orang bodoh), karena yang keempat pasti celaka. Hai anakku!
Jadikanlah masjid menjadi tempat tinggalmu, karena aku pernah mendengar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Setiap masjid adalah tempat tinggal orang
yang bertakwa. Allah Subhanahu wa ta’ala menjanjikan bagi orang yang menjadikan
masjid sebagai tempat tinggalnya, kesenangan, kelapangan rahmat, dan lewat di
jalan yang diridai Allah Taala.”
Abu Darda pernah pula melihat sekelompok pemuda
duduk-duduk di pinggir jalan. Mereka ngobrol sambil melihat orang-orang yang
lalu lintas. Abu Darda mengahmpiri mereka dan berkata kepadanya, “Hai anak-anakku! Tempat yang paling baik
bagi orang muslim adalah rumahnya. Di sana dia dapat memelihara diri dan
pandangannya. Jauhilah duduk-duduk di pinggir jalan dan di pasar-pasar, karena
hal itu menghabiskan waktu dengan percuma."
Ketika Abu Darda tinggal di Damsyiq, Gubernur Muawiyah bin
Abu Sufyan melamar anak gadis Abu Darda, yaitu Darda, untuk putranya, Yazid.
Abu Darda menolak lamaran Muawiyah tersebut. Dia tidak mau mengawinkan anak
gadisnya, Darda, dengan Yazid (putra Gubernur). Bahkan, Darda dikawinkannya
dengan pemuda muslim, anak orang kebanyakan. Abu Darda menyukai agama dan
akhlak pemuda itu. Orang banyak heran dengan sikap Abu Darda, dan
berbisik-bisik sesama mereka, “Anak
gadis Abu Darda dilamar oleh Yazid bin Muawiyah, tetapi lamarannya ditolak.
Kemudian Abu Darda mengawinkan putrinya dengan seorang pemuda muslim anak orang
kebanyakan.”
Seorang penanya bertanya kepada Abu Darda, ”Mengapa Anda bertindak seperti itu.”
Jawab Abu Darda, “Saya
bebas berbuat sesuatu untuk kemaslahatan Darda.”
Tanya, “Mengapa?”
Jawab Abu Darda, “Bagaimana
pendapat Anda, apabila nanti Darda telah berada di tengah-tengah inang pengasuh
yang senantiasa siap sedia melayaninya, sedangkan dia berada dalam istana yang
gemerlapan menyilaukan mata, akan kemana jadinya agama Darda ketika itu?”
Pada suatu waktu ketika Abu Darda berada di negeri
Syam, Amirul Mukminin Umar bin Khattab datang memeriksa. Khalifah mengunjungi
sahabat itu di rumahnya malam hari. Ketika Khalifah membuka pintu rumah Abu
Darda, ternyata pintu itu tidak dikunci dan rumah gelap tanpa lampu. Ketika Abu
Darda mendengar suara Khalifah, Abu Darda berdiri mengucapkan selamat datang
dan menyilakan Khalifah Umar untuk duduk. Keduanya segera terlibat dalam
pembicaraan-pembicaraan penting, padahal kegelapan menyelubungi keduanya,
sehingga masing-masing tidak melihat kawannya berbicara. Khalifah Umar
meraba-raba bantal alas duduk Abu Darda, kiranya sebuah pelana kuda. Dirabanya
pula kasur tempat tidur Abu Darda, kiranya berisi pasir belaka. Dirabanya pula
selimut, kiranya pakaian-pakaian tipis yang tidak mencukupi untuk musim dingin.
Kata Khalifah Umar, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda. Maukan Anda
saya bantu? Maukah Anda saya kirimi sesuatu untuk melapangkan kehidupan Anda?”
Jawab Abu Darda, “Ingatkah
Anda hai Umar sebuah hadis yang disampaikan Rasulullah kepada kita?”
Tanya Umar, “Hadis
apa gerangan?”
Jawab Abu Darda, “Bukankah Rasulullah telah bersabda, “Hendaklah puncak salah seorang kamu
tentang dunia seperti perbekalan seorang pengendara (yaitu secukupnya dan
seadanya).”
Jawab Khalifah Umar, “Ya,
saya ingat!” Kata Abu Darda, “Nah,
apa yang telah kita perbuat sepeninggal beliau, hai Umar?”
Khalifah Umar menangis, Abu Darda pun menangis pula.
Akhirnya, mereka berdua bertangis-tangisan sampai waktu subuh.
Abu Darda menjadi guru selama tinggal di Damsyiq. Dia
memberi pengajaran kepada penduduk, memperingatkan mereka, mengajarkan kitab
(Alquran) dan hikmah kepada mereka sampai dia meninggal.
Tatkala Abu Darda hampir meninggal, para sahabatnya datang
berkunjung.
Mereka bertanya, “Sakit
apa yang Anda rasakan?”
Jawab Abu Darda, “Dosa-dosaku!”
Tanya, “Apa yang Anda inginkan?”
Jawab, “Ampunan
Tuhanku.”
Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang hadir di
sekitarnya, “Ulangkanlah
kepadaku kalimah, Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.”
Abu Darda senantiasa membaca kalimah tersebut
berulang-ulang hingga nafasnya yang terakhir. Setelah Abu Darda pergi menemui
Tuhannya, Auf bin Malik al-Asyja’iy bermimpi. Dia melihat dalam mimpinya sebuah
padang rumput yang luas menghijau. Maka, mengambanglah bau harum semerbak dan
muncul suatu bayangan berupa sebuah kubah besar dari kulit. Sekitar kubah
berbaring hewan ternak yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Dia bertanya, “Milik
siapa ini?”
Jawab, “Milik
Abdur Rahman bin Auf.”
Abdur Rahman muncul dari dalam kubah. Dia berkata kepada Auf
bin Malik, “Hai, Ibnu Malik!
Inilah karunia Allah kepada kita berkat Alquran. Seandainya engkau mengawasi
jalan ini, engkau akan melihat suatu pemandangan yang belum pernah engkau
saksikan, dan mendengar sesuatu yang belum pernah engkau dengar, dan tidak
pernah terlintas dalam pikiranmu.”
Tanya Auf bin Malik, “Untuk
siapa semuanya, hai Abu Muhammad?"
Jawab, “Disediakan
Allah Taala untuk Abu Darda, karena dia telah menolak dunia dengan mudah dan
lapang dada.”
Ia wafat pada tahun 32 H di dasmaskus.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer