Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu
lingkungan yang langka degan kepandaian tulisi baca. Ia juga seorang penyair
yang lancar, untaian syair-syairnya meluncur dari lidahnya dengan kuat dan
indah didengar ….
Semenjak ia memeluk Islam, dibaktikannya kemampuannya
bersyair itu untuk mengabdi bagi kejayaan Islam …..Dan Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam
menyukai dan menikmati syair-syairnya dan sering beliau minta untuk lebih tekun
lagi membuat syair.
Peperangan
Balatentara Islam maju bergerak kemedan perang muktah.
Sewaktu orang-orang Islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh mereka,
mereka memperkirakan besarnya balatentara Romawi sekitar duaratus ribu orang …,
karena menurut kenyataan barisan tentara mereka seakan tak ada ujung alhir dan
seolah-olah tidak terbilang banyaknya ….!
Orang-orang Islam melihat jumlah mereka yang sedikit,
lalu terdiam …dan sebagian ada yang menyeletuk berkata : “Baiknya kita kirim utusan kepada
Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, memberitakan jurnlah musuh yang
besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan
tetap maju maka kita patuhi”.
Tetapi Ibnu Rawahah, bagaikan datangnya siang bangun berdiri
di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap : “Saudara-saudara sekalian! Demi Alloh
Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan
berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah Kita tidak memerangi
memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan Agama kita ini, yang dengan memeluknya
kita telah dimuliakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala… ! Ayohlah kita maju ….! Salah
satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenagan atau syahid di jalan Alloh
Subhanahu wa Ta’ala… !”
Dengan bersorak-sorai Kaum Muslimin yang sedikit bilangannya
tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak : “Sungguh, demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala,
benar yang dibilang Ibnu Rawahah.. !”
Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan
bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang
berhasil dihimpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan dahsyat yang
belum ada taranya.
Kedua pasukan, balatentara itu pun bertemu, lalu
berkecamuklah pertempuran di antara keduanya.
Pemimpin yang pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai
syahid yang mulia, disusul oleh pemimpin yang kedua Ja’far bin Abi Thalib,
hingga ia memperoleh syahidnya pula dengan penuh kesabaran, dan menyusul pula
sesudah itu pemimpin yang ketiga ini, Abdullah bin Rawahah. Dikala itu ia
memungut panji perang dari tangan kanannya Ja’far, sementara peperangan sudah
mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan Islam yang kecil itu, tersapu
musnah diantara pasukan-pasukan Romawi yang datang membajir laksana air bah,
yang berhasil dihimpun oleh Heraklius untuk maksud ini.
Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, ibnu
Rawahah ini menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa
ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang
akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat
kehebatan tentara romawi seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu
pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh
semangat dan kekutannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil
berseru :
“Aku
telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tapi
kenapa kulihat engkau menolak syurga …..
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …….
Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati ….!”
(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …….
Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati ….!”
(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).
Wafatnya
"Jika
kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati…..!” Ia pun
maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya …… Kalau tidaklah taqdir Alloh
Subhanahu wa Ta’ala yang
menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya akan ke syurga, niscaya ia akan
terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewaskan sejumlah besar
dari mereka …. Tetapi waktu keberangkatan sudah tiba, yang memberitahukan awal
perjalananya pulang ke hadirat Alloh, maka naiklah ia sebagai syahid…..
Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan
perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah
puncak idamannya : “Hingga
dikatakan, yaitu bila mereka meliwati mayatku: Wahai prajurit perang yang
dipimpin Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dan benar ia telah terpimpin!”
“Benar engkau, ya Ibnu
Rawahah….! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Alloh…..!”
Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi
Balqa’ di Syam, Rasululloh Shallallohu
alaihi wa Sallam sedang duduk beserta para shahabat di Madinah
sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang
tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau
mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata
yang jatu disebabkan rasa duka dan belas kasihan … ! Seraya memandang berkeliling
ke wajah para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata : “Panji perang dipegang oleh Zaid bin
Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid ….. Kemudian
diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula
….”. Be!iau berdiam sebentar, lain diteruskannya ucapannya: “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah
bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia·pun syahid
pula”.
Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata
beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu
katanya pula :
“Mereka
bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga …
Perjalanan manalagi yang lebih mulia …….
Kesepakatan mana lagi yang lebih berbahagia …….
Mereka maju ke medan laga bersama-sama …….
Dan mereka naik ke syurga bersama-sama pula ….
Dan penghormatan terbaik yang diberikan untuk mengenangkan
jasa mereka yang abadi, ialah ucapan Rasululloh Shallallohu alaihi wa Sallam
yang berbunyi : “Mereka telah diangkatkan ke tempatku ke syurga…… “
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer