Ja'far bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim ini masuk Islam dari sejak dini dan
sempat mengikuti hijrah ke Abessinia, malah sempat mempublikasikan Islam di
daerah itu. Dalam perang Muktah beliau diserahi menjadi pemegang bendera Islam,
setelah tangan kanannya terpotong dia memegang bendera dengan tangan kiri,
namun tangan kirinya juga terpotong lagi, sehingga dia memegang bendera itu
dengan dadanya. Berbagai cobaan ditahankannya dalam mengemban tugas ini,
akhirnya beliau mati syahid di mana dalam tubuhnya terdapat sekitar 90 goretan
dan tembakan.
Di kalangan Bani Abdi Manaf ada lima orang yang sangat mirip
dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sehingga seringkali orang salah
menerka. Mereka itu adalah :
1. Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthallib, anak paman Nabi
Shallallahu alaihi wassalam. sekaligus sebagai saudara sesusuannya.
2. Qutsam Ibnul Abbas bin Abdul Muthallib, anak paman Nabi
Shallallahu alaihi wassalam.
3. Saib bin Ubaid bin Abdi Yazin bin Hasyim, kakek Syafi’i
4. Ja’far bin Abi Thalib, yaitu saudara Ali bin Abi Thalib.
5. Hasan bin Ali Bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu
alaihi wassalam. Beliau ini paling mirip dengan Nabi Shallallahu alaihi
wassalam. di antara mereka berlima.
Marilah sekarang kita melihat sisi kehidupan Ja’far bin Abi
Thalib. Abi Thalib termasuk bangsawan Quraisy dan mempunyai kedudukan
terpandang dalam masyarakat.
Namun, kehidupannya susah dan tanggungannya banyak. Ia
pernah mengalami keadaan sangat kritis saat kemarau panjang. Tanaman mati
karena kekeringan dan banyak orang terpaksa memakan bangkai. Di saat paceklik
seperti ini, biasanya tidak ada yang menaruh perhatian untuk meringankan beban
Abu Thalib di kalangan Bani Hasyim selain Abbas dan Muhammad bin Abdullah.
Muhammad berkata kepada Abbas, “Wahai paman, saudara paman (yaitu Abu Thalib) memiliki
tanggungan yang sangat banyak. Sebagaimana yang paman saksikan, seluruh
masyarakat kini sedang ditimpa musibah berupa kemarau panjang dan paceklik yang
mengakibatkan banyak orang kelaparan. Marilah kita pergi ke rumah Abu Thalib,
saudara paman. Kita ambil alih sebagian tanggungannya untuk meringankan beban
keluarganya. Aku mengambil anaknya seorang, dan paman mengambil pula anaknya
yang lain. Agaknya dengan begitu, cukup besar artinya untuk meringankan
bebannya.”
Abbas berkata, “Usulmu
sangat bagus. Engkau betul-betul membangunkanku untuk kebajikan. Marilah kita
pergi.”
Mereka pun pergi ke rumah Abu Thalib. Lalu berkata, “Kami datang hendak meringankan beban Anda
yang berat. Izinkanlah kami membawa sebagaian anak-anakmu tinggal bersama kami
sampai masa sulit yang mencekam seluruh masyarakat ini reda kembali.”
Abu Thalib berkata, “Boleh
saja, asal kalian tidak membawa Aqil.” Aqil adalah anak laki-laki
Abu Thalib yang tertua.
Muhammad bin Abdullah mengambil Ali bin Abi Thalib lalu
digabungkannya dalam keluarganya. Sedangkan Abbas membawa Ja’far bin Abi Thalib
dan digabungkannya pula dalam keluarganya. Ali tetap tinggal bersama Muhammad
bin Abdullah sampai Allah mengutusnya menjadi rasul dengan agama yang hak. Dan,
Ali tercatat sebagai pemuda yang pertama-tama masuk Islam.
Sementara Ja’far tinggal bersama paman Abbas hingga ia
dewasa, lalu dia masuk Islam, dan tidak memerlukan bantuan Abbas lagi. Ja’far
dan istrinya, Asma’ bin Umais, menerjunkan dirinya dalam kendaraan Islam sejak
dari awal. Keduanya menyatakan Islam di hadapan Abu Bakar Shiddiq sebelum
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. masuk ke rumah Al-Arqam. Pasangan suami
istri Bani Hasyim yang muda belia ini tidak luput pula dari penyiksaan kaum
kafir Quraisy, sebagaimana yang diderita kaum muslimin yang pertama-tama masuk
Islam. Tetapi, suami istri ini bersabar menerima segala cobaan yang menimpanya,
karena mereka tahu jalan ke surga bertabur duri dengan segala macam kesulitan
dan kepedihan. Tetapi yang merisaukan mereka berdua adalah kaum Quraisy
membatasi geraknya untuk menegakkan syiar Islam dan melarangnya untuk merasakan
kelezatan ibadah. Karena itu, kaum Quraisy senantiasa mengamati gerak-gerik
keduanya. Maka, Ja’far bin Abi Thalib beserta istrinya memohon izin kepada
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. untuk hijrah ke Habasyah bersama-sama
dengan para sahabat lainnya.
Dengan sedih hati Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.
mengizinkannya. Sebaliknya, mereka dengan amat berat meninggalkan kampung
halaman tempat mereka bermain pada waktu kecil dan waktu muda, tanpa suatu dosa
yang mencemarkan, kecuali karena mereka mengucapkan kata-kata “Rabbunallaah”
(Rab kami hanyalah Allah). Namun, mereka tidak berdaya untuk menangkis siksaan
dan tekanan kaum Quraisy.
Kendaraan kaum muhajirin yang pertama-tama berangkat ke
Habasyah di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib Mereka merasa lega di bawah
perlindungan Najasyi, Raja Habasyah yang adil dan saleh. Sejak mereka masuk
Islam itulah, mereka baru merasa aman, dapat menikmati kemanisan agama yang
mereka anut, bebas dari rasa cemas dan ketakutan yang mengganggu dan yang
menyebabkan mereka hijrah.
Namun, tidak berapa lama setelah kaum Quraisy mengetahui
rombongan kaum muslimin yang hijrah ke Habasayah dan mendapat perlindungan raja
Najasyi, dapat melaksanakan dinnya dengan tenang dan aman, kaum Quraisy pun
terkejut dan khawatir. Mereka kemudian berunding untuk membunuh kaum muhajirin
itu atau meminta mereka agar dimasukan penjara. Untuk itu marilah kita
dengarkan Ummu Salamah (salah seorang muhajirat) menceritakan kisah nyata yang
dilihat dan didengarnya sendiri.
Ummu Salamah berkata, “Manakala
kami tiba di Habasyah, kami disambut dan bertemu dengan tetangga yang baik.
Kami dapat melaksanakan agama kami dengan aman, dan beribadah kepada Allah
tanpa mendapatkan siksaan atau gangguan yang tidak diinginkan. Ketika kaum
Quraisy mendengar berita tentang keadaan kami lebih baik, mereka segera
berunding untuk mengacaukan kami. Lalu mereka mengutus dua orang diplomat ulung
kepada Raja Najasyi, yaitu Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabiah dengan membawa persembahan
sejumlah hadiah besar untuk Najasyi pribadi, dan untuk para pemuka agama
(pendeta) mereka berupa barang-barang mewah dan antik dari Hijaz. Namun, mereka
memutuskan untuk tidak memberikan kepada raja terlebih dahulu sebelum
memberikannya kepada para pendeta."
Tatkala kedua utusan itu tiba di Habasyah, mereka terlebih
dahulu menemui pemuka agama yang terdekat dengan Najasyi dan memberikan hadiah
untuk mereka. Kedua utusan itu berkata, “Telah
datang ke negeri Anda, orang-orang bodoh kami. Mereka mengingkari agama nenek
moyang dan memecah belah persatuan bangsa. Bila nanti kami berbicara dengan
baginda raja, kami harap tuan-tuan dapat menolong kami supaya baginda raja sudi
menyerahkan mereka kepada kami, tanpa menanyakan masalah agama, karena pemimpin
rombongan mereka sangat pandai berbiara dan mengerti tentang agama yang mereka
yakini.”
“Baiklah,”
jawab pendeta itu.
Ummu Salamah meneruskan ceritanya, “Namun, apa yang mereka khawatirkan justru
itulah yang terjadi. Raja Najasyi memangil salah seorang kami untuk didengar
keterangannya.”
Kedua utusan Quraisy menghadap Raja Najasyi dengan membawa persembahan
bermacam-macam dan hadiah yang tak ternilai harganya. Baginda raja memuji dan
mengagumi persembahan mereka.
Utusan Quraisy berkata, “Wahai
paduka raja telah datang ke negara paduka orang-orang jahat bangsa kami. Mereka
datang dengan membawa agama yang tidak pernah kami kenal dan juga belum pernah
paduka kenal. Mereka keluar dari agama nenek moyang kami, tetapi tidak pula
masuk ke dalam agama paduka. Kami diutus oleh bapak-bapak dan segenap famili
untuk menjemput dan membawa mereka kembali pulang, mereka sangat pandai
mengada-ada dan membuat fitnah."
Najasy melihat kepada para pendeta yang berada di
sampingnya. Lalu mereka berkata, “Apa
yang disampaikan kedua utusan itu memang benar, wahai paduka. Orang yang
sebangsa dengan kaum pelarian itu lebih mengeri dan tahu tentang kejahatan
mereka. Karena itu sebaiknyalah kaum pelarian itu dikembalikan saja kepada
mereka. Terserah kepada mereka apa yang akan diperbuat sesudah itu.”
Baginda raja marah mendengar jawaban dari para pendeta. “Tidak…! Demi Allah…! tidak seorang pun
dari mereka akan saya serahkan sebelum saya memanggil mereka dan meminta
keterangannya tentang tuduhan yang diberikan kepada mereka. Jika benar mereka
orang jahat sebagaimana yang dituduhkan, maka mereka akan saya serahkan.
Tetapi, jika tuduhan itu palsu, mereka akan saya lindungi dan akan saya jadikan
tetanggaku yang baik selama mereka menghendaki,” ucap Najasyi.
Selanjutnya, kata Ummu Salamah, “Najasyi memangil kami untuk menghadap kepadanya. Sebelum
menghadap, terlebih dahulu kami bermusyawarah." Sebagian kami
berkata, “Kita dipanggil
menghadap baginda raja untuk diminta keterangannya tentang agama kita. Karena
itu, kita tentukan saja seorang juru bicara untuk menjelaskan kepada beliau.
Pilihan mereka jatuh kepada Ja’far bin Abi Thalib dan yang lainnya tidak
diijinkan untuk berbicara.”
Sesudah membuat keputusan, kami pergi menghadap baginda Raja
Najasyi. Di dalam majlis raja telah hadir para pendeta pemuka agama. Mereka
duduk di kanan kiri baginda. Masing-masing memakai pakaian kebesarannya,
lengkap dengan jubah, kopiah dan memegang sebuah kitab di tangan mereka. Di
samping para pendeta, kami melihat pula Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabiah.
Setelah duduk dengan tenang di dalam majlis, baginda raja
menoleh kepada kami dan berkata, “Agama
apakah yang tuan-tuan anut, sehingga tuan-tuan keluar dari agama bangsa
tuan-tuan, tetapi tidak pula masuk ke dalam agama kami atau agama-agama lain
yang telah ada?”
Maka tampillah Ja’far bin Abi Thalib menjawab, “Wahai paduka raja, dahulu kami memang
bangsa yang bodoh. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, berzina,
mengerjakan segala pekerjaan keji, saling bermusuhan, tidak mempedulikan tetangga,
dan yang kuat selalu memakan yang lemah. Begitulah keadaan kami dahulu sebelum
Allah mengutus Rasul-Nya kepada kami. Kami mengenal benar kepribadian Rasul
Allah itu. Turunnya, kebenaran setiap kata yang diucapkannya, kejujurannya,
kesucian pribadinya yang tidak sedikit jua pun ternoda, dan seterusnya. Dia
mengajak kami supaya memeluk agama Allah, mengesakan Allah, beribadah
semata-mata kepada-Nya dan supaya meninggalkan agama kami yang lama, yaitu
agama nenek moyang kami yang menyembah batu dan berhala.
Bahkan dia menyuruh kami agar selalu berbicara benar,
senantiasa memegang amanah, menghubungkan sillahturrahmi, bersikap baik kepada
tetangga, menghentikan segala perbuatan terlarang, dan petumpahan darah. Dia
juga melarang kami berzina dan melakukan segala perbutan keji, mengucapkan
kata-kata kotor, memakan harta anak yatim, menuduh wanita baik-baik berbuat
serong. Dia menyuruh kami beribadah kepada Allah saja, tidak menyekutukan-Nya
dengan yang lain-lain. Dia menyuruh kami menegakkan salat, membayar zakat, dan
puasa bulan Ramadahan. Kami menerima bak segala perintah dan larangannya.
Kami percaya sungguh kepadanya. Dan, kami patuhi segala yang
diajarkan Allah kepadanya. Maka kami halalkan segala yang dikatakannya halal
dan kami haramkan segala yang dikatakannya haram. Tetapi, wahai paduka raja!
Sebagian bangsa kami memusuhi kami karenanya. Mereka menyiksa kami dengan
siksaan berat agar kami keluar dari agama yang kami anut itu dan kembali kepada
agama lama yang menyembah berhala. Maka tatkala penganiayaan dan penyiksaan
mereka terhadap kami sudah demikian memuncak dan kami dihalang-halangi untuk
terus melaksanakan ajaran agama kami, lalu kami keluar dari negeri kami dan
memilih negeri paduka sebagai tempat kami mengungsi. Karena kami yakin paduka
adalah tetangga yang baik dan tidak akan berlaku zalim kepada kami.”
Najasyi berkata kepada Ja’far, “Dapatkah Anda membacakan salah satu ayat yang diajarkan
Allah kepada nabi Anda?”
Ja’far menjawab, “Ya,
tentu.”
Najasyi berkata, “Coba
bacakan kepada saya.”
Ja’far membaca surat Maryam
1-4, yang artinya, “Kaaf
Haa Yaa’ ‘Ain Shaad. Mengingat rahmat Rabmu kepada hamba-Nya Zakariya. Ketika
ia berseru kepada Rabnya dengan suara perlahan-lahan. Dia berdo’a, “Wahai
Rabku, sesungguhnya tulangku sudah lemah, dan kepalaku sudah beruban, dan aku
belum pernah beruntung (bila) memohon kepada Engkau, wahai Rabku.”
Baru saja Ja’far selesai membacakan ayat-ayat permulaan
surat tesebut, Najasyi menangis sehingga jenggotnya basah oleh air mata. Begitu
pula para pastor turut menangis sehingga kitab di tangan mereka basah demi
mendengar kalam Allah tersebut.
Najasyi berkata kepada kami, “Sesungguhnya agama yang dibawa nabi tuan-tuan dan agama yang
dibawa Nabi Isa berasal dari satu sumber.”
Kemudian dia berpaling kepada Amr bin Ash dan Abdullah bin
Rabiah seraya berkata, “Pergilah
kalian, demi Allah, saya tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian
selama-lamanya.”
Ummu Salamah selanjutnya berkata, “Ketika kami keluar dari majlis Najasyi,
Amr bin Ash mengancam kami. Dia berkata kepada temannya, Abdullah bin Rabiah,
“Demi Allah, besok akan saya datangi baginda raja. Akan saya katakan kepada
baginda ucapan orang-orang ini yang pasti akan membuat hati baginda raja marah
dan benci kepada mereka. Akan saya sebutkan kepada baginda secara tuntas
kebusukan-kebusukan hati orang-orang ini.”
“Ah, jangan!
Bukankah mereka ini karib kerabat kita juga, sekalipun mereka berselisih paham
dengan kita,” kata Abdullah bin Rabiah.
Amr bin Ash berkata, “Biar
saja, demi Allah, akan saya ceritakan kepada baginda besok. Demi Allah, akan
saya ceritakan kepada baginda, bahwa orang-orang ini mengatakan Isa bin Maryam
adalah hamba sahaya.”
Keesokan harinya Amr bin Ash menghadap Raja Najasyi dan
berkta, “Wahai paduka raja,
orang-orang yang paduka lindungi memandang rendah Isa bin Maryam. Cobalah
paduka panggil lagi dan bertanya kepada mereka.”
Ummu Salamah melanjutkan ceritanya, “Setelah mengetahui tindakan Amr itu kami
sungguh terpana. Kami tidak berpendirian begitu, jangankan pula untuk
mengucapkan kata-kata yang menghina Nabi Isa bin Maryam. Lalu kami
bermusyawarah tentang jawaban apa yang paling tepat mengenai persoalan itu,
jika nanti baginda raja menanyakannya. Kami sepakat, “Demi Allah, kita tidak
akan memberi jawaban melainkan dengan firman Allah. Kita tidak boleh keluar
seujung kuku pun dari ajaran Nabi kita, dan harus senantiasa begitu.”
Kemudian menunjuk kembali Ja’far bin Abi Thalib menjadi juru
bicara. Ketika dipanggil baginda raja, kami pun datang menghadap. Kami dapati
para pastor telah hadir seperti kemarin. Di samping mereka terlihat pula Amr
bin Ash dan kawannya. Segera kami duduk di hadapan baginda, lalu ia bertanya
kepada kami, “Bagaimana
pendapat tuan-tuan tentang Isa bin Maryam?”
Ja’far berkata, “Kami
mempercayainya sebagaimana diajarkan nabi kami.”
Najasyi berkata, “Bagaimana
ajaran nabi tuan-tuan mengenai beliau.”
Ja’far menjawab, “Beliau bersabda, “Sesungguhnya Isa adalah hamba Allah dan
Rasul-Nya, ruh-Nya, dan firman-Nya yang ditujukan kepada Maryam yang senantiasa
perawan suci.”
Mendengar jawaban Ja’far itu, Najasyi menepukkan tangannya
ke lantai seraya berkata, “Demi
Allah tidak berbeda seujung rambut pun ajaran Isa bin Maryam dengan ajaran nabi
tuan-tuan.”
Para pastor bernafas panjang, sebagai protes terhadap ucapan
Najasyi. Lalu Najasyi berkata kepada para pendeta, “Sekalipun kalian mencemooh, pergilah kalian! Kalian percaya
terhadap orang-orang yang telah menyogok dan mendatangkan malapetaka pada
kalian. Demi Allah, saya tidak suka menerima emas walaupun sebesar gunung,
tetapi mencelakai salah seorang kamu dengan suatu kejahatan."
Kemudian Najasyi menengok kepada Amr bin Ash dan kawannya seraya berkata, “Kembalikan semua hadiah-hadiah yang
dipersembahkan kedua orang ini, saya tidak butuh persembahan mereka.”
Ummu Salamah melanjutkan ceritanya, “Amr bin Ash dan kawannya keluar dengan
hati berkeping-keping dan sangat kecewa. Dia kalah total, mendapat kegagalan
dan kekecewaan yang memalukan. Dan kami dibolehkan tetap tinggal di sisi
Najasyi, di negeri yang baik dan penduduk yang berhati mulia pula.”
Ja’far bin Abi Thalib beserta istri tinggal dengan aman dan
tenang dalam perlindungan Najasyi yang ramah tamah itu selama sepuluh tahun.
Pada tahun ke tujuh hijrah, kedua suami isteri itu
meninggalkan Habasyah dan hijrah ke Yatsrib. Kebetulan Rasulullah Shallallahu
alaihi wassalam. baru saja pulang dari Khaibar. Beliau sangat gembira bertemu
dengan Ja’far sehingga karena kegembiraannya beliau berkata, “Aku tidak tahu mana yang menyebabkan aku
gembira, apakah karena kemenangan di Khaibar atau karena kedatangan Ja’far?”
Begitu pula kaum muslimin umumnya, terlebih fakir miskin,
mereka juga bergembira dengan kedatangan Ja’far. Ja’far sangat penyantun dan
banyak membela golongan duafa, sehinga dia digelari Abil Masakin (bapak
orang-orang miskin).
Abu Hurairah bercerita tentang Ja’far. Ia berkata, “Orang yang paling baik kepada kami
(golongan orang-orang miskin) ialah Ja’far bin Abi Thalib. Dia sering mengajak
kami makan di rumahnya, lalu kami makan apa yang ada. Bila makanannya sudah
habis, diberikannya kepada kami pancinya, lalu kami habiskan sampai dengan
kerak-keraknya.”
Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah, pada awal tahun
kedelapan hijriah Rasululalh Shallallahu alaihi wassalam. menyiapkan pasukan
tentara untuk memerangi tentara Rum di Muktah. Beliau mengangkat Zaid bin
Haritsah menjadi komandan pasukan.
Rasululalh Shallallahu alaihi wassalam. bersabda, “Jika Zaid tewas atau cidera, komandan
digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Seandainya Ja’far tewas atau cidera pula, dia
digantikan Abdullah bin Rawahah. Dan, apabila Abdullah bin Rawahah cidera atau
gugur pula, hendaklah kaum muslmin memilih pemimpin/komandan di antara mereka.
“
Setelah pasukan sampai di Muktah, yaitu sebuah kota dekat
Syam dalam wilayah Yordan, mereka mendapati tentara Rum telah siap menyambut
kedatangan mereka dengan kekuatan 100.000 pasukan inti yang terlatih,
berpengalaman, dan membawa persenjataan lengkap. Pasukan mereka juga terdiri
dari 100 ribu milisi Nasrani Arab dari kabilah-kabilah Lakham, Judzam,
Qudha’ah, dan lain-lain. Sementara, tentara kaum muslimin yang dipimpin Zaid
bin Haritsah hanya berkekuatan 3000 tentara.
Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang itu
berhadap-hadapanan, pertempuran segera berkobar dengan hebatnya. Zaid bin
Haritsah gugur sebagai syuhada ketika dia dan tentaranya sedang maju menyerbu
ke tengah-tengah musuh.
Melihat Zaid jatuh, Ja’far segera melompat dari punggung
kudanya yang kemerah-merahan, lalu dipukulnya kaki kuda itu dengan pedang, agar
tidak dapat dimanfaatkan musuh selama-lamanya. Kemudian secepat kilat
disambarnya bendera komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan
tinggi-tinggi sebagai tanda pimpinan kini beralih kepadanya. Dia maju ke
tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul
rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya. Akhirnya musuh dapat mengepung dan
mengeroyoknya. Sementara dia bersenandung menyanyikan sajak nan indah :
Wahai
… surga nan nikmat sudah mendekat
Minuman segar, tercium harum
Tetapi engkau Rum … Rum….
Menghampiri siksa
Di malam gelap gulita, jauh dari keluarga
Tugasku … menggempurmu ….
Minuman segar, tercium harum
Tetapi engkau Rum … Rum….
Menghampiri siksa
Di malam gelap gulita, jauh dari keluarga
Tugasku … menggempurmu ….
Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah
musuh yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan kiri dengan
hebat. Suatu ketika tangan kanannya terkena sabetan musuh sehingga buntung.
Maka dipegannya bendera komando dengan tangan kirinya. Tangan kirinya putus
pula terkena sabetan pedang musuh. Dia tidak gentar dan putus asa. Dipeluknya
bendera komando ke dadanya dengan kedua lengan yang masih utuh. Tetapi, tidak
berapa lama kemudian, kedua lengannya tinggal sepertiga saja dibuntung musuh.
Secepat kilat Abdullah bin Rawahah merebut bendera komando dari komando Ja’far
bin Abi Thalib. Pimpinan kini berada di tangan Abdullah bin Rawahah, sehingga
akhirnya dia gugur pula sebagai syuhada’, menyusul kedua sahabatnya yang telah
syahid lebih dahulu.
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sangat sedih
mendapat berita ketiga panglimanya gugur di medan tempur. Beliau pergi ke rumah
Ja’far bin Abi Thalib anak pamannya. Didapatinya Asma’, isteri Ja’far, sedang
bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya. Dia mengaduk adonan roti, merawat
anak-anak, memandikan dan memakaikan baju mereka yang bersih.
Asma’ bercerita, “Ketika
Rasulullah mengunjungi kami, terlihat wajah beliau diselubungi kabut sedih.
Hatiku cemas, tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku
takut mendengar berita buruk. Beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak
kami."
Beliau berkata, “Mana
anak-anak Ja’far, suruh mereka ke sini.”
Maka kupanggil mereka semua dan kusuruh menemui Rasulullah
Shallallahu alaihi wassalam. Anak-anak berlompatan kegirangan mengetahui
kedatangan beliau.
Mereka berebutan untuk bersalaman kepada beliau. Beliau menengkurapkan
mukanya kepada anak-anak sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau
mengalir membasahi pipi mereka. Saya bertanya, “Ya Rasulullah, demi Allah, mengapa anda menangis? Apa yang
terjadi dengan Ja’far dan kedua sahabatnya?”
Beliau menjawab, “Ya
…, mereka telah syahid hari ini.” Mendengar jawaban beliau, maka
reduplah senyum kegirangan di wajah anak-anak, apalagi setelah mendengar ibu
mereka menangis tersedu-sedu. Mereka diam terpaku di tempat masing-masing,
seolah-olah seekor burung sedang bertengger di kepala mereka.
Rasulullah berucap sambil menyeka air matanya, “Wahai Allah, gantilah Ja’far bagi anak-anaknya … wahai Allah,
gantilah Ja’far bagi isterinya.” Kemudian kata beliau selanjutnya,
“Aku melihat sungguh Ja’far berada di surga. Dia
mempunyai dua sayap berlumuran darah dan bertanda di kakinya.”
Wallahua’lam.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer