Nama dan Nasabnya
Nama lengkapnya adalah Shafiyyah binti Huyay bin
Akhtab bin Sa’yah bin Amir bin Ubaid bin Kaab bin al-Khazraj bin Habib bin
Nadhir bin al-Kham bin Yakhurn dari keturunan Harun bin Imran. Ibunya bernama
Barrah binti Samaual darin Bani Quraizhah. Shafiyyah dilahirkan sebelas tahun
sebelum hijrah, atau dua tahun setelah masa kenabian Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wassalam.. Ayahnya adalah seorang pemimpin Bani Nadhir.
Sejak kecil dia menyukai ilmu pengetahuan dan rajin
mempelajari sejarah dan kepercayaan bangsanya. Dari kitab suci Taurat dia
membaca bahwa akan datang seorang nabi dari jazirah Arab yang akan menjadi
penutup semua nabi. Pikirannya tercurah pada masalah kenabian tersebut,
terutama setelah Muhammad muncul di Mekah Dia sangat heran ketika kaumnya tidak
mempercayai berita besar tersebut, padahal sudah jelas tertulis di dalarn kitab
mereka. Demikian juga ayahnya, Huyay bin Akhtab, yang sangat gigih menyulut
permusuhan terhadap kaum muslimin.
Sifat dusta, tipu muslihat, dan pengecut ayahnya sudah
tampak di mata Shafiyyah dalam banyak peristiwa. Di antara yang menjadi
perhatian Shafiyyah adalah sikap Huyay terhadap kaumnya sendiri, Yahudi Bani
Quraizhah. Ketika itu, Huyay berjanji untuk mendukung dan memberikan
pertolongan kepada mereka jika mereka melepaskan perjanjian tidak rnengkhianati
kaurn muslimin (Perjanjian Hudaibiyah). Akan tetapi, ketika kaum Yahudi
mengkhianati perjanjian tersebut, Huyay melepaskan tanggung jawab dan tidak
menghiraukan mereka lagi. Hal lain adalah sikapnya terhadap orang-orang Quraisy
Mekah. Huyay pergi ke Mekah untuk rnenghasut kaum Quraisy agar memerangi kaum
muslimin, dan mereka menyuruhnya mengakui bahwa agama mereka (Quraisy) lebih
mulia daripada agama Muhammad, dan tuhan mereka lebih baik daripada tuhan
Muhammad.
Masa
Pernikahannya
Sayyidah Shauiyyah bin Huyay r.a. telah dua kali
menikah sebelurn dengan Rasulullah. Suami pertamanya bernama Salam bin Musykam,
salah seorang pemimpin Bani Quraizhah, namun rumah tangga mereka tidak
berlangsung lama. Suami keduanya bernama Kinanah bin Rabi’ bin Abil Hafiq, yang
juga salah seorang pemimpin Bani Quraizhah yang diusir Rasulullah dan kemudian
menetap di Khaibar.
Penaklukan
Khaibar dan Penawanannya
Perang Khandaq telah membuka tabir pengkhianatan kaum
Yahudi terhadap perjanjian yang telah mereka sepakati dengan kaum muslimin.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. segera menyadari ancaman yang akan
menimpa kaum muslimin dengan berpindahnya kaum Yahudi ke Khaibar kernudian
membentuk pertahanan yang kuat untuk persiapan menyerang kaum muslimin.
Setelah perjanjian Hudaibiyah disepakati untuk
menghentikan permusuhan selama sepuluh tahun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wassalam. merencanakan penyerangan terhadap kaum Yahudi, tepatnya pada bulan
Muharam tahun ketujuh hijriah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. memimpin
tentara Islam untuk menaklukkan Khaibar, benteng terkuat dan terakhir kaum
Yahudi. Perang berlangsung dahsyat hingga beberapa hari lamanya, dan akhirnya
kemenangan ada di tangan umat Islam. Benteng-benteng mereka berhasil
dihancurkan, harta benda mereka menjadi harta rampasan perang, dan kaum
wanitanya pun menjadi tawanan perang. Di antara tawanan perang itu terdapat
Shafiyyah, putri pemimpin Yahudi yang ditinggal mati suaminya.
Bilal membawa Shafiyyah dan putri pamannya menghadap
Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam.. Di sepanjang jalan yang dilaluinya terlihat
mayat-mayat tentara kaumnya yang dibunuh. Hati Shafiyyah sangat sedih melihat
keadaan itu, apalagi jika mengingat bahwa dirinya menjadi tawanan kaum muslimin.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. memahami kesedihan yang dialaminva,
kemudian beliau bersabda kepada Bilal, “Sudah hilangkah rasa kasih sayang
dihatimu, wahai Bilal, sehingga engkau tega membawa dua orang wanita ini
melewati mayat-mayat suami mereka?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.
rnemilih Shafiyyah sebagai istri setelah terlebih dahulu menawarkan Islam
kepadanya dan kemudian diterirnanya.
Seperti telah dikaji di atas, Shafiyyah telah banyak
memikirkan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam sejak dia belum
mengetahui kerasulan beliau. Keyakinannya bertambah besar setelah dia
mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Anas r a. berkata, “Rasulullah ketika hendak menikahi
Shafiyyah binti Huyay bertanya kepadanya, ‘Adakah sesuatu yang engkau ketahui
tentang diriku?’ Dia menjawab, ‘Ya
Rasulullah, aku sudah rnengharapkanrnu sejak aku masih musyrik, dan memikirkan
seandainya Allah mengabulkan keinginanku itu ketika aku sudah merneluk Islam.”
Ungkapan Shafiyyah tersebut menunjukkan rasa percayanya kepada Rasulullah dan
rindunya terhadap Islam.
Bukti-bukti yang jelas tentang keimanan Shafiyyah
dapat terlihat ketika dia memimpikan sesuatu dalarn tidurnya kemudian dia
ceritakan mimpi itu kepada suaminya. Mengetahui takwil dan mimpi itu, suaminya
marah dan menampar wajah Shafiyyah sehingga berbekas di wajahnya. Rasulullah
melihat bekas di wajah Shafiyyah dan bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Ya
Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh
di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata,
‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah?’ Kemudian
dia menampar wajahku.”
Menjadi
Ummul-Mukminin
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. menikahi
Shafiyyah dan kebebasannya menjadi mahar perkawinan dengannya. Pernikahan
beliau dengan Shafiyyah didasari beberapa landasan. Shafiyyah telah mernilih
Islam serta menikah dengan Rasulullah ketika beliau memberinya pilihan antara
memeluk Islam dan menikah dengan beliau atau tetap dengan agamanya dan
dibebaskan sepenuhnya. Ternyata Shafiyyah memilih untuk tetap bersama Nabi,
Selain itu, Shafiyyah adalah putri pemimpin Yahudi yang sangat membahayakan
kaum muslimin, di samping itu, juga karena kecintaannya kepada Islam dan Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. menghormati Shafiyyah
sebagaimana hormatnya beliau terhadap istri-istri yang lain. Akan tetapi,
istri-istri beliau menyambut kedatangan Shafiyyah dengan wajah sinis karena dia
adalah orang Yahudi, di samping juga karena kecantikannya yang menawan. Akibat
sikap mereka, Rasulullah pernah tidak tidur dengan Zainab binti Jahsy karena
kata-kata yang dia lontarkan tentang Shafiyyah. Aisyah bertutur tentang
peristiwa tersebut, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. tengah dalam
perjalanan. Tiba-tiba unta Shafiyyah sakit, sementara unta Zainab berlebih.
Rasulullah berkata kepada Zainab, ‘Unta tunggangan Shafiyyah sakit, maukah
engkau memberikan salah satu dan untamu?’ Zainab menjawab, ‘Akankah aku memberi
kepada seorang perempuan Yahudi?’ Akhirnya, beliau meninggalkan Zainab pada
bulan Dzulhijjah dan Muharam. Artinya, beliau tidak mendatangi Zainab selama
tiga bulan. Zainab berkata, ‘Sehingga aku putus asa dan aku mengalihkan tempat
tidurku.” Aisyah mengatakan lagi, “Suatu siang aku melihat bayangan Rasulullah
datang. Ketika itu Shafiyyah mendengar obrolan Hafshah dan Aisyah tentang
dirinya dan mcngungkit-ungkit asal-usul dirinya. Betapa sedih perasannya. Lalu
dia mengadu kepada Rasulullah sambil menangis.
Rasulullah menghiburnya, ‘Mengapa tidak engkau
katakan, bagaimana kalian berdua lebih baik dariku, suamiku Muhammad, ayahku
Harun, dan pamanku Musa.” Di dalam hadits riwayat Tirmidzi juga disebutkan,
“Ketika Shafiyyah mendengar Hafshah berkata, ‘Perempuan Yahudi!’ dia menangis,
kemudian Rasulullah menghampirinya dan berkata, ‘Mengapa cngkau menangis?’ Dia
menjawab, ‘Hafshah binti Umar mengejekku bahwa aku wanita Yahudiah.’ Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, ‘Engkau adalah anak nabi, pamanmu
adalah nabi, dan kini engkau berada di bawah perlindungan nabi. Apa lagi yang
dia banggakan kepadamu?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. kemudian
berkata kepada Hafshah, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, Hafshah!”
Salah satu bukti cinta Hafshah kepada Nabi terdapat
pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalarn Thabaqta-nya tentang
istri-istri Nabi yang berkumpul menjelang beliau wafat. Shafiyyah berkata, “Demi Allah, ya Nabi, aku ingin apa yang
engkau derita juga menjadi deritaku.” Istri-istri Rasulullah
memberikan isyarat satu sama lain. Melihat hal yang demikian, beliau berkata, “Berkumurlah!” Dengan terkejut
mereka bertanya, “Dari apa?”
Beliau menjawab, “Dari isyarat
mata kalian terhadapnya. Demi Allah, dia adalah benar.”
Setelah Rasulullah wafat, Shafiyyah merasa sangat
terasing di tengah kaum muslimin karena mereka selalu menganggapnya berasal dan
Yahudi, tetapi dia tetap komitmen terhadap Islam dan mendukung perjuangan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wassalam. Ketika terjadi fitnah besar atas kematian Utsrnan
bin Affan, dia berada di barisan Utsman. Selain itu, dia pun banyak
meriwayatkan hadits Nabi. Dia wafat pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi
Sufyan. Marwan bin Hakam menshalatinya, kemudian menguburkannya di Baqi’.
Semoga Allah memberinya tempat yang lapang dan mulia di sisiNya. Amin.
Ummu Habibah binti Abu Sufyan
Dalam perjalanan hidupnya, Ummu Habibah banyak mengalami
penderitaan dan cobaan yang berat. Setelah memeluk Islam, dia bersama suaminya
hijrah ke Habasyah. Di sana, ternyata suaminya murtad dari agama Islam dan
beralih memeluk Nasrani. Suaminya kecanduan minuman keras, dan meninggal tidak
dalam agama Islam. Dalam kesunyian hidupnya, Ummu Habibah selalu diliputi
kesedihan dan kebimbangan karena dia tidak dapat berkumpul dengan keluarganya
sendiri di Mekah maupun keluarga suaminya karena mereka sudah menjauhkannya.
Apakah dia harus tinggal dan hidup di negeri asing sampai wafat?
Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya dalam kesedihan
terus-menerus. Ketika mendengar penderitaan Ummu Habibah, hati Rasulullah
sangat tergerak sehingga beliau rnenikahinya dan Ummu Habibah tidak lagi berada
dalam kesedihan yang berkepanjangan. Hal itu sesuai dengan firman Allah bahwa: Nabi itu lebih utama daripada orang lain
yang beriman, dan istri-istri beliau adalah ibu bagi orang yang beriman.
Keistimewaan Ummu Habibah di antara istri-istri Nabi
lainnya adalah kedudukannya sebagai putri seorang pemimpin kaum musyrik Mekah
yang memelopori perientangan terhadap dakwah Rasulullah dan kaum muslimin,
yaitu Abu Sufyan.
Masa
Kecil dan Nasab Pertumbuhannya
Ummu Habibah dilahirkan tiga belas tahun sebelum
kerasulan Muhammad Shalalahu ‘Alaihi Wassalam. dengan nama Ramlah binti Shakhar
bin Harb bin Uinayyah bin Abdi Syams. Ayahnya dikenal dengan sebutan Abu
Sufyan. Ibunya bernama Shafiyyah binti Abil Ashi bin Umayyah bin Abdi Syams,
yang merupakan bibi sahabat Rasulullah, yaitu Utsman bin Affan r.a.. Sejak
kecil Ummu Habibah terkenal memiliki kepribadian yang kuat, kefasihan dalam
berbicara, sangat cerdas, dan sangat cantik.
Pernikahan,
Hijrah, dan Penderitaannya
Ketika usia Ramlah sudah cukup untuk menikah,
Ubaidillah bin Jahsy mempersunting- nya, dan Abu Sufyan pun menikahkan mereka.
Ubaidillah terkenal sebagai pemuda yang teguh memegang agama Ibrahirn a.s.. Dia
berusaha menjauhi minuman keras dan judi, serta berjanji untuk memerangi agama
berhala. Ramlah sadar bahwa dirinya telah menikah dengan seseorang yang bukan
penyembah berhala, tidak seperti kaumnya yang membuat dan menyembah
patung-patung. Di dalarn hatinya terbersit keinginan untuk mengikuti suaminya
memeluk agama Ibrahim a.s.
Sementara itu, di Mekah mulai tersebar berita bahwa
Muhammad datang membawa agama baru, yaitu agama Samawi yang berbeda dengan
agama orang Quraisy pada umumnya. Mendengar kabar itu, hati Ubaidillah
tergugah, kemudian menyatakan dirinya memeluk agama baru itu. Dia pun mengajak
istrinya, Ramlah, untuk memeluk Islam bersamanya.
Mendengar misi Muhammad berhasil dan maju pesat, orang-orang
Quraisy menyatakan perang terhadap kaum muslimin sehingga Rasulullah
memerintahkan kaum muslimin untuk berhijrah ke Habasyah. Di antara mereka
terdapat Ramlah dan suaminya, Ubaidillah bin Jahsy. Setelah beberapa lama
mereka menanggung penderitaan berupa penganiayaan, pengasingan, bahkan
pengusiran dan keluarga yang terus mendesak agar mereka kembali kepada agama
nenek moyang. Ketika itu Ramlah tengah mengandung bayinya yang pertama.
Setibanya di Habasyah, bayi Ramlah lahir yang kemudian diberi nama Habibah.
Dari nama bayi inilah kemudian nama Ramlah berubah menjadi Ummu Habibah.
Selama mereka di Habasyah terdengar kabar bahwa kaum
muslimin di Mekah semakin kuat dan jumlahnya bertambah sehingga mereka
menetapkan untuk kembali ke negeri asal mereka. Sementara itu, Ummu Habibah dan
suaminya memilih untuk menetap di Habasyah. Di tengah perjalanan, rombongan
kaum muslimin yang akan kembali ke Mekah mendengar kabar bahwa keadaan di Mekah
masih gawat dan orang-orang musyrik semakin meningkatkan tekanan dan boikot
terhadap kaum muslimin. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Habasyah.
Beberapa tahun tinggal di Habasyah, kaum muslimin
sangat mengharapkan kesedihan akan cepat berlalu dan barisan kaum muslimin
menjadi kuat, namun kesedihan belum habis. Kondisi itulah yang menyebabkan
Ubaidillah memiliki keyakinan bahwa kaum muslimin tidak akan pernah kuat.
Tampaknya dia sudah putus asa sehingga sedikit demi sedikit hatinya mulai
condong pada agama Nasrani, agama orang Habasyah.
Ummu Habibah mengatakan bahwa dia memimpikan sesuatu,
“Aku melihat suamiku berubah menjadi manusia paling jelek bentuknya. Aku
terkejut dan berkata, ‘Demi Allah, keadaannya telah berubah.’ Pagi harinya
Ubaidillah berkata, ‘Wahai Ummu Habibah, aku melihat tidak ada agama yang lebih
baik daripada agama Nasrani, dan aku telah menyatakan diri untuk memeluknya.
Setelah aku memeluk agama Muhammad, aku akan memeluk agama Nasrani.’ Aku
berkata, ‘Sungguhkah hal itu baik bagimu?’ Kemudian aku ceritakan kepadanya
tentang mimpi yang aku lihat, namun dia tidak mempedulikannya. Akhirnya dia
terus-menerus meminum minuman keras sehingga merenggut nyawanya.”
Demikianlah, Ubaidillah keluar dan agama Islam yang
telah dia pertaruhkan dengan hijrah ke Habasyah, dengan menanggung derita,
meninggalkan kampung halaman bersama istri dan anaknya yang masih kecil.
Ubaidillah pun berusaha mengajak istrinya untuk keluar dari Islam, namun
usahanya sia-sia karena Ummu Habibah tetap kokoh dalam Islam dan
memertahankannya hingga suaminya meninggal. Ummu Habibah merasa terasing di
tengah kaum muslimin karena merasa malu atas kernurtadan suaminya. Baginya
tidak ada pilihan lain kecuali kembali ke Mekah, padahal orang tuanya, Abu
Sufyan, sedang gencar menyerang Nabi dan kaurn muslimin. Dalam keadaan seperti
itu, Ummu Habibah merasa rumahnya tidak aman lagi baginya, sementara keluarga
suarninya telah meeninggalkan rumah mereka karena telah bergabung dengan
Rasulullah. Akhirnya, dia kembali ke Habasyah dengan tanggungan derita yang
berkepanjangan dan menanti takdir dari Allah.
Menjadi
Ummul-Mukminin
Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam. selalu memantau
keadaan umat Islam, tidak saja yang berada di Mekah dan Madinah, tetapi juga
yang di Habasyah. Ketika memantau Habasyahlah beliau mendengar kisah tentang
Ummu Habibah yang ditinggalkan Ubaidillah dengan derita yang ditanggungnya
selama ini. Hati beliau terketuk dan berniat menikahinya.
Ummu Habibah menceritakan mimpi dan kehidupannya yang
suram. Dia berkata, “Dalam tidurku aku melihat seseorang menjumpaiku dan
memanggilku dengan sebutan Ummul-Mukminin. Aku terkejut. Kemudian aku
mentakwilkan bahwa Rasulullah akan menikahiku.” Dia melanjutkan, “Hal itu aku
lihat setelah masa iddahku habis. Tanpa aku sadari seorang utusan Najasyi
mendatangiku dan meminta izin, dia adalah Abrahah, seorang budak wanita yang
bertugas mencuci dan memberi harum-haruman pada pakaian raja. Dia berkata,
‘Raja berkata kepadamu, ‘Rasulullah mengirimku surat agar aku mengawinkan kamu
dengan beliau.” Aku menjawab, ‘Allah memberimu kabar gembira dengan membawa
kebaikan.’ Dia berkata lagi, ‘Raja menyuruhmu menunjuk seorang wali yang hendak
rnengawinkanmu’. Aku menunjuk Khalid bin Said bin Ash sebagai waliku, kemudian
aku memberi Abrahah dua gelang perak, gelang kaki yang ada di kakiku, dan
cincin perak yang ada di jari kakiku atas kegembiraanku karena kabar yang
dibawanya.” Ummu Habibah kembali dan Habasyah bersarna Syarahbil bin Hasanah
dengan membawa hadiah-hadiah dari Najasyi, Raja Habasyah.
Berita pernikahan Ummu Habibah dengan Rasulullah
merupakan pukulan keras bagi Abu Sufyan. Tentang hal itu, Ibnu Abbas
meriwayatkan firman Allah, “Mudah-mudahan
Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orangorang yang kamu musuhi di
antara mereka. …“ (QS.
Al-Mumtahanah: 7).
Ayat ini turun ketika Nabi Shalalahu ‘Alaihi Wassalam. menikahi Ummu Habibah
binti Abi Sufyan.
Hidup
bersama Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam
Rasululullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam. mengutus Amru
bin Umayyah ke Habasyah dengan membawa dua tugas, yaitu mengabari kaum
Muhajirin untuk kembali ke negeri mereka (Madinah) karena posisi kaum muslimin
sudah kuat serta untuk meminang Ummu Habibah untuk Rasulullah. Di tengah
perjalanan kembali ke Madinah mereka mendengar berita kernenangan kaum muslimin
atas kaum Yahudi di Khaibar. Kegembiraan itu pun mereka rasakan di Madinah
karena saudara mereka telah kembali dan Habasyah. Rasulullah menyambut mereka
yang kembali dengan suka cita, terlebih dengan kedatangan Ummu Habibah. Beliau
mengajak Ummu Habibah ke dalarn rumah, yang ketika itu bersarnaan juga dengan
pernikahan beliau dengan Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab, putri salah seorang
pimpinan Yahudi Khaibar yang ditawan tentara Islam. Ketika itu Nabi
mernbebaskan dan menikahinya. Istri-istri Rasulullah lainnya menyambut
kedatangan Ummu Habibah dengan hangat dan rasa hormat, berbeda dengan
penyambutan mereka terhadap Shafiyyah.
Perjalanan hidup Ummu Habibah di tengah keluarga
Rasulullah tidak banyak menimbulkan konflik antar istri atau mengundang amarah
beliau. Selain itu, belum juga ada riwayat yang mengisahkan tingkah laku Ummu
Habibah yang menunjukkan rasa cemburu.
Posisi
yang Sulit
Telah kita sebutkan di atas tentang posisi Ummu
Habibah yang istimewa di antara istri-istri Rasulullah. Ayahnya adalah seorang
pemimpin kaum musyrik ketika Ummu Habibah mendapat cahaya keimanan, dan dia
menghadapi kesulitan ketika harus menjelaskan keyakinan itu kepada orang
tuanya.
Orang-orang Quraisy mengingkari perjanjian yang telah
mereka tanda-tangani di Hudaibiyah bersama Rasulullah. Mereka menyerang dan
membantai Bani Qazaah yang telah terikat perjanjian perlindungan dengan kaum
muslimin. Untuk mengantisipasi hal itu, Rasulullah berinisiatif menyerbu Mekah
yang di dalamnya tinggal Abu Sufyan dan keluarga Ummu Habibah. Orang-orang
Quraisy Mekah sudah mengira bahwa kaum muslimin akan menyerang mereka sebagai
balasan atas pembantaian atas Bani Qazaah yang mereka lakukan. Mereka sudah
mengetahui kekuatan pasukan kaum muslimin sehingga mereka memilih jalan damai.
Diutuslah Abu Sufyan yang dikenal dengan kemampuan dan kepintarannya dalam
berdiplomasi untuk berdamai dengan Rasulullah.
Sesampainya di Madinah, Abu Sufyan tidak langsung
menemui Rasulullah, tetapi terlebih dahulu rnenemui Ummu Habibah dan berusaha
rnemperalat putrinya itu untuk kepentingannya. Betapa terkejutnya Ummu Habibah
ketika melibat ayahnya berada di dekatnya setelah sekian tahun tidak berjumpa
karena dia hijrah ke Habasyah. Di sinilah tampak keteguhan iman dan cinta Ummu
Habibah kepada Rasulullah. Abu Sufyan menyadari keheranan dan kebingungan
putrinya, sehingga dia tidak berbicara. Akhirnya Abu Sufyan masuk ke kamar dan
duduk di atas tikar. Melihat itu, Ummu Habibah segera melipat tikar (kasur)
sehingga tidak diduduki oleh Abu Sufyan. Abu Sufyan sangat kecewa melihat sikap
putrinya, kemudian berkata, “Apakah kau melipat tikar itu agar aku tidak duduk
di atasnya atau rnenyingkirkannya dariku?” Ummu Habibah menjawab, “Tikar ini
adalah alas duduk Rasulullah, sedangkan engkau adalah orang musyrik yang najis.
Aku tidak suka engkau duduk di atasnya.” Setelah itu Abu Sufyan pulang dengan
merasakan pukulan berat yang tidak diduga dari putrinya. Dia merasa bahwa
usahanya untuk menggagalkan serangan kaurn muslimin ke Mekah telah gagal. Ummu
Habibah telah menyadari apa yang akan terjadi. Dia yakin akan tiba saatnya
pasukan muslim menyerbu Mekah yang di dalarnnya terdapat keluarganya, namun
yang dia ingat hanya Rasulullah. Dia mendoakan kaum muslimin agar rnemperoleh
kemenangan.
Allah mengizinkan kaum muslimin untuk mernbebaskan
Mekah. Rasulullah bersama ribuan tentara Islam memasuki Mekah. Abu Sufyan
merasa dirinya sudah terkepung puluhan ribu tentara. Dia merasa bahwa telah
tiba saatnya kaum muslimin membalas sikapnya yang selama ini menganiaya dan
menindas mereka. Rasulullah sangat kasihan dan mengajaknya memeluk Islam. Abu
Sufyan menerrna ajakan tersebut dan menyatakan keislamannya dengan kerendahan
diri. Abbas, paman Rasulullah, meminta beliau menghormati Abu Sufyan agar
dirinya merasa tersanjung atas kebesarannya. Abbas berkata, “Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang yang
sangat suka disanjung.” Di sini tampaklah kepandaian dan kebijakan
Rasulullah. Beliau menjawab, “Barang
siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, dia akan selamat. Barang siapa yang
menutup pintu rumahnya, dia pun akan selamat. Dan barang siapa yang memasuki
Masjidil Haram, dia akan selamat.” Begitulah Rasulullah menghormati
kebesaran seseorang, dan Allah telah memberi jalan keluar yang baik untuk
menghilangkan kesedihan Ummu Habibah dengan keislaman ayahnya.
Akhir
sebuah Perjalanan
Setelah Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam. wafat,
Ummu Habibah hidup menyendiri di rumahnya hanya untuk beribadah dan mendekatkan
diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam kejadian fitnah besar atas
kematian Utsman bin Affan, dia tidak berpihak kepada siapa pun. Bahkan ketika
saudaranya, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, berkuasa, sedikit pun dia tidak berusaha
mengambil kesempatan untuk menduduki posisi tertentu. Dia juga tidak pernah
menyindir Ali bin Abi Thalib lewat sepatah kata pun ketika bermusuhan dengan
saudaranya itu. Dia pun banyak meriwayatkan hadits Nabi yang kemudian
diriwayatkan kembali oleh para sahabat. Di antara hadits yang diriwayatkannya
adalah: “Aku mendengar Rasulullah bersabda,
“Barang siapa yang shalat sebanyak dua belas rakaat sehari
semalam, niscaya Allah akan membangun baginya rumah di surga.’ Ummu Habibah
berkata, “Sungguh aku tidakpernah meninggalkannya setelab aku mendengar dari
Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam.” (HR. Muslim)
Ummu Habibah wafat pada tahun ke-44 hijrah dalarn usia
tujuh puluh tahun. Jenazahnya dikuburkan di Baqi’ bersama istri-istri
Rasulullah yang lain. Semoga Allah memberinya kehormatan di sisi-Nya dan
menempatkannya di tempat yang layak penuh berkah. Amin.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer